Hay guys, hari ini aku mau berbagi pengalaman tentang SBMPTN khususnya dalam Tes Praktik Seni Musik di UNY. Selamat membaca. Hokyaaaaaaaaaa...
Prolog :
.
Hari ini adalah hari penerimaan SNMPTN, sekaligus hari
dimana SMA ku mengadakan pentas seni di malam hari. Bersama sohib dekatku,
Yasin dan Ridwan, kita sepakat untuk nginep di sekolah buat nonton pentas seni
yang diadakan malam hari, sekaligus mengintip hasil SNMPTN.Setelah pentas seni kelar, semua temanku sangat ribut
membicarakan perihal SNMPTN, kita hendak bermain game online PB untuk melepas
stress apabila nggak diterima SNMPTN. Baik Yasin maupun Ridwan, mereka semua
udah liat hasil pengumuman SNMPTN dan mereka semua mendapat rapot merah.
Sementara aku belum pengen meliat pengumumanku sendiri. Saat itu aku memilih
jurusan Informatika – UNS di prioritas pertama, dan Pendidikan Seni Musik – UNY
di prioritas kedua. Hanya dua jurusan, karena aku nggak suka sesuatu yang
muluk-muluk. Bagiku, cukup kembangkan dua buah minat saat di SMA dan gunakan
itu untuk mendayung derasnya dunia perkuliahan kelak. Dan aku memilih dunia
perkomputeran dan dunia musik sebagai minatku. Oh iya, aku dari program IPA, by
the way. Angkatan terakhir dari KTSP 2006.
.
Aku cukup percaya diri di sektor musik, karena SMAku
termasuk langganan SNMPTN musik. Setiap tahun, selalu ada yang berhasil
menembus musik lewat jalur SNMPTN dan pada tahunku, hanya aku satu angkatan di
SMA yang memilih musik jalur SNMPTN, meskipun prioritas dua. Aku pikir, peluang
masuk musik tentu sangat besar akan hal itu meskipun aku menempatkannya di
prioritas kedua. Karenanya, aku nggak ingin bergembira sendiri saat kedua
temanku mendapat rapot merah, sementara aku akan mendapatkan rapot hijau.
.
Setelah pentas seni selesai, tibalah saatnya ke warnet untuk
refreshing. Wah, kedua temanku tampak loyo – tepatnya aku nggak bisa
menggambarkan perasaannya
. Ada yang senang karena akhirnya buku panduan
SBMPTNnya akhirnya kepakai, ada juga yang mencoba menguatkan hati. Kebalikan
kedua temanku, aku amat sangat berdebar – debar sekaligus penasaran. Maka
ketika sampai di warnet, aku sempatkan membuka website SNMPTN, dan apa yang aku
liat setelahnya adalah tulisan berwarna merah tanda nggak diterima SNMPTN.
Seketika itu juga, aku langsung nggak bersemangat bermain PB!
.
Saat perjalanan kembali ke sekolah, kita keluarin uneg2 kita
soal rencana masa depan sambil makan mie ayam di alun2. Setelah kelar jam
setengah 3, kita kembali ke sekolahan buat tidur di ruangan ekstrakurikuler
sekolah. Ruangan lampu di matiin sampe di sana. Wah, ga bisa nyari slot buat
ngerebahin badan nih. Berabe juga kalo lampu dinyalain. Anak2 pasti udah
kelelahan banget abis perform di pensi. Walhasil kita sepakat buat begadang.
Cuman gegara Ridwan udah ngantuk berat, dia mengundurkan kesepakatan. Sementara
aku sama Yasin ngomongin hal ga jelas buat begadang.
.
Paginya, laper, pusing, mana kantin belum buka, suntuk juga
gegara semalem. Adib dating sambil bawa gitar. Lumayan ada yang ngegenjrengin.
Pas kantin buka, udah ga tahan sama lapernya, pusingnya, sama suntuknya, sambil
nunggu dimasakin ibu kantin, langsung dah ngomong sama Adib buat ngegenjrengin
lagunya Judika pake standar chord. Udah abis itu teriak teriak sambil meratapi
keadaan. …AKUPUN INGIN BAHAGIA, WALAU TAK BERSAMA DIA… DIAAAAAAAAAAAAA… AAA…!
(Ibu kantin geleng2 kepala
) SFX : Gelas pecah.
Registrasi :
Aku mulai menata hati untuk tetap kuat dan menyadari bahwa
aku harus kembali berjuang di jalur SBMPTN. Maka, aku mulai mendaftar SBMPTN.
Pengalaman baru seperti mengantri di bank BNI, mengisi formulir SBMPTN, hingga
menjaga dokumen yang akan dibawa. Aku memilih jurusan yang lebih tinggi lagi di
SNMPTN. Ilmu Komputer – IPB dan lagi-lagi Seni Musik dengan universitas yang
sama, UNY. Aku masih penasaran dengan jurusan ini dan lagi-lagi aku
menempatkannya di prioritas kedua.
.
Tindakanku, menurutku, memang amat sangat menantang.
Bagaimana nggak, aku adalah anak IPA. Namun jurusan prodi yang aku pilih selain
dari SAINTEK (sebutan untuk jurusan anak IPA), tetapi juga SOSHUM (sebutan
untuk jurusan anak IPS) yang berarti aku masuk SBMPTN jalur IPC atau jalur
campuran. Ya, jalur IPC yang berarti selain materi IPA yang diujikan, sekaligus
pula materi IPS yang di ujikan. Apa yang membuatku mengikuti tes SOSHUM adalah
karena Pendidikan Seni Musik masuk dalam kategori prodi jurusan SOSHUM, yang
entah kenapa, aku harus belajar Sosiologi, Geografi dan Ekonomi terlebih dahulu
untuk belajar musik (tapi masih masuk akal daripada harus belajar Fisika, Kimia
dan Biologi cuma buat belajar musik). Dan masih menurut peraturan SBMPTN,
Pendidikan Seni Musik adalah prodi dimana pemilihnya diharuskan tes praktik
keterampilan musik. Nantinya, nilai praktik akan ikut dipertimbangkan untuk
penerimaan SBMPTN.
.
Dan yang jadi permasalahan adalah, aku terlalu percaya diri
terhadap SNMPTNku sehingga, jangankan untuk materi SOSHUM dan keterampilan
musik, materi SAINTEK untuk SBMPTN sendiri aku amat sangat kurang persiapan,
dimana peserta SNMPTN yang gagal SBMPTN “hanya” diberi waktu belajar kurang
lebih 4 minggu sebelum hari H.
.
Persiapan SBMPTN :
.
Aku memulai belajar dari buku-buku khusus SBMPTN yang
membahas tentang TPA. Ya, TPA sebenarnya amat sangat mudah kalau dipelajari dan
akan menjadi susah kalo belum pernah mempelajarinya. Oh iya, aku juga salah
satu orang yang nekad ke musik. Soalnya di rumah, aku nggak mempunyai gitar,
ataupun keyboard. Ada keyboard tapi keyboard mini keluaran tahun berapa lupa, ibuku
beli pas aku umur 5 tahun. Akupun meminta pendapat sama Mas Pras, anak musik
UNY juga yang lolos jalur SNMPTN, mengenai instrument lagu yang pantes
dipersembahkan di depan juri. Soalnya, aku sendiri nggak tahu tentang lagu-lagu
klasik. Dia menjelaskan kalau tes keterampilannya disuruh memainkan 2 buah alat
musik (itu berarti gitar dan piano). Kaget juga. Kalau gitar, aku sudah punya
lagu andalan. Yaitu Romance de Amour walau cuma part Minornya doank. Tapi kalo
piano? Jangankan lagunya, mau latihan aja enggak tau mau gimana dan dimana. Akhirnya diberilah saran untuk keterampilan
pianoku, sebuah lagu dari Yiruma berjudul Kiss the Rain. Aku (walau belum
pernah denger judul lagunya) menerima sarannya.
.
Untungnya, ibuku membawa pulang keyboard mininya ke rumah
(karena dulunya, keyboard mininya di taruh di sekolahan), sehingga bisa buat
latihan. Masalah lain timbul. Ternyata nada terendahnya adalah nada F1 (kira2
segitu) dan nada tertingginya F5. Dengan range keyboard segitu, hampil mustahil
untuk belajar Bass Clef dalam lagunya. Akhirnya, terpaksa latihan di rumah nggak
menggunakan range Bass Clef, namun satu oktaf lebih tinggi (suaranya jueleg
vroh, asli :’v ).
.
Aku baru tahu masalah ini ketika aku disuruh praktik di rumah Mas Pras menggunakan
keyboard standar. Selain tuts.nya yang harus menekan lebih dalam, ternyata aku
baru sadar kalo keyboard mini.ku kurang 1 oktaf lebih rendah untuk berlatih
lagu Kiss the Rain. Pasrah waktu itu. Nggak mungkin bisa aku menyelesaikan
seluruh lagu kalau menggunakan keyboard mini. Kuputuskan hanya menghafal 14
birama awal Kiss the Rain (itu seperti belum ada apa-apanya sama lagunya
).
.
Sungguh, amat sangat sulit belajar keyboard untuk seseorang
otodidak sepertiku. Apalagi aku baru memegang keyboard seperti itu hanya karena
harus tes keterampilan menggunakan keyboard (kalo nggak ada kek gtu, mungkin
sampai saat ini aku belum bisa main keyboard). Hampir 3 minggu kugunakan waktu
untuk memperlancar praktik keyboard dan SAINTEKku. SOSHUM dan gitar? Sama
sekali tak ku lirik. Baru sekitar H-9, Mas Pras membolehkanku meminjam
gitarnya. Dan karena hanya Romance de Amour Minor, aku tak perlu latihan
macam-macam lagi
.
.
Detik – detik SBMPTN :
.
Aku memilih Yogyakarta sebagai tempat pelaksanaan SBMPTNku.
Dan karena aku anak IPC, lokasi ujian berada di Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga. Aku bersama rombongan temanku ke lokasi. Setelah sampai di sana,
langsung survey lokasi sama survey toilet. Ternyata lokasi tes SBMPTNku terpisah
dengan rombongan. Lokasi tesku di Fakultasi Ilmu Tarbiah dan Keguruan sendiri
sementara teman-temanku secara kebetulan berpasangan tempat tesnya di fakultas
yang sama. Itu berarti, sambil menunggu bel masuk SBMPTN, nggak ada teman buat
diajak ngobrol. That’s hurt 
.
Setelah puas survey lokasi, rombongan bergegas ke arah
tempat di mana nantinya kita bisa beristirahat, sehingga esoknya kita bisa
menuju ke tempat tes tanpa terburu-buru. Thanks buat bang Amin yang udah
nyiapin tempat rombongan beristirahat. Dan karena rombongan menginap di Pondok Pesantren,
otomatis, rombongan harus ekstra adaptasi karena umumnya, Pondok Pesantren memang di
desain sedemikian rupa supaya penghuninya kebal dengan segala macam kondisi
tempat beristirahat. Singkatnya, rombongan tidur di satu tempat tidur. Berapa
anggota “rombongan”? Jumlahnya 5 orang. Lalu, berapa ukuran kamarnya? Nggak lebih
panjang dari 3x2.5 meter.
.
Aku bukan tipe ‘pelor’ (nemPEL langsung moLOR), sehingga
ketika instrument mulut yang biasa muncul saat mata terpejam dikumandangkan
hampir oleh ke 4 orang temanku, walhasil, hampir 1 malam itu pula aku nggak
bisa tidur. Itu diperparah dengan banyaknya nyamuk yang “hanya” suka dengan
mereka yang mempunyai golongan darah A (dan itu gue). Akhirnya tibalah pagi.
Semua rombongan bersiap-siap untuk kebersihan badan sebelum berangkat ke TKP.
Heran juga, kagak biasanya aku nggak setor pagi ini. Gawat kalo dibiarin.
Jebolnya pas ngerjain tes ini. (Hint : usahain udah BAB sebelum ngerjain
SBMPTN)
.
Tes SBMPTN :
.
Sampailah rombongan di TKP. Yang pertama aku cari adalah toilet.
Karena pas menuju keTKP, rasa nervous bikin aku kebelet. Kelar, aku gabung sama
rombongan. Setelah kumpul bentar buat
saling menguatkan, pada saat menit-menit tes SBMPTN, kita sepakat untuk menuju
kelas masing2. Lokasi tesku berada di gedung fakultas lantai 3. Keren beud
kampusnya. Muter kayak rumah susun yang tengahnya kayak ada taman-taman gitu.
Karena ga ada temen ngobrol plus tempat duduk udah di spot.in ama orang dan ga
ada satupun yang aku kenal, kaya ga punya dosa aja bergabung sama ratusan peserta
yang juga bingung mau ngapain sambil nunggu bel masuk. Mau belajar ntar dikira,
‘widiiih, ente paham belajar di waktu mepet2 gini?’ Mau kenalan, kok kayaknya
enggak pada tempatnya (serius, muka2nya tu pada tegang2 gimana gtu. Lagian apa
yg mau diobrolin?). Bersama ratusan peserta, aku juga liat indahnya kampus,
indahnya taman2 dibawah, dan indahnya cewe sebelah
…
.
Oke, bel masuk. Saatnya masuk kelas. Bersama 5 pengawas, aku
cari tempat duduk. Mayan lah, depan cwo, kiri cwe tapi penampilannya biasa,
belakang cwe yang juga berpenampilan biasa, kanan kosong… Amaan, ga ada yang bisa
ngeganggu konsentrasi saat menjawab tes, soalnya ada beberapa temanku yang satu
ruangan sama cewe yang berdandan sedemikian rupa sehingga mengganggu
konsentrasi
. Kesan pertama saat masuk ruangan, loh, ga ada jam kok ga boleh
bawa jam tangan? Apa jam tangan HP masih eksis sampe sekarang? Otomatis,
strategi manage time nggak akan berlaku ruangan tanpa jam. Dan ruangan yang aku
pikir luasnya 10 x 10 meter itu memiliki 4 AC yang semuanya nyala. Ga ada yang
protes dengan semua itu. Ga ada yang keberatan soal jam tangan, ga boleh bawa jaket, ato soal AC yang
kedinginan. Aku terpana, kekuatan tahan dingin mereka bener2 luar biasa!
.
Tes pertama di bagikan. Tes TPA, b.ing, b.indo dan
matematika dasar. Wuuu, TPAnya langsung aku babat! Cuma gara2 ga tau waktu
managemen, aku kelabakan di soal B.indo dan B.Ing. Di sini ada cerita konyol.
Pas waktu selesai tes pertama, saat dosen mengumpulkan lembar jawab, ada satu
siswa yang tidoer. Heran, dingin dingin kek gini bisa tidur dia. Nggak tau
ngiler ato nggak. Yang aku liat, lembar jawaban dia masih kosong melompong.
Dosennya ngomel kenapa jawabannya masih kosong, dan tu anak tersadar dan mau
ngejawab minimal satu ato dua butir lah. Tapi identitasnya aja masih kosong.
Punah sudah harapannya diterima di PTN dan melayang sudah biaya registrasi
SBMPTN. (Hint : Tidur sebelum perang SBMPTN itu amat sangat penting sekali!)
.
Setelah tes pertama kelar, keluarlah aku, yang juga kayak
orang ga punya dosa lagi nunggu tes selanjutnya. Karena waktu yang disediakan
cukup lama, dan daripada bingung mau ngapain, akhirnya aku putuskan buat ke
masjid aja berdoa. Mending lah daripada ga punya kerjaan. Selesai urusan dari
masjid, langsung buru-buru ke tempat tes. Untungnya belum pada masuk. Tes kedua
yaitu tes SAINTEK. Heran juga sama anak yang baru tidur. Masih berani juga
nampangin batang idungnya.
Ola kawaaaan (mungkin dia baca ceritaku?) Soal
mateMATIkanya bro, susaah banget! (Setelah hasil count SBMPTN, dari 4 soal
mateMATIka yang aku jawab, semuanya gagal total!)
.
Setelah tes kedua kelar, nah ini nih. Ini yang bikin
bingung. Hampir 1 jam 15 menit lamanya istirahatnya. Ngapaiiiiiiiin? Jujur ngga
ada buku pelatihan SOSHUM berada di tasku karena emang aku nggak belajar. Solat
dzuhur juga ga bakalan memakan waktu selama itu. Palingan juga setengah jam.
Akhirnya kuputuskan ke masjid aja. Siapa tau ketemu rombongan. Mana batre HPku
amat sangat bermasalah buat komunikasi sama anak2. 45 menit sebelum tes
dimulai, aku mulai lapar. Karena ga ada temen2 yang ngerasain lapar (katanya,
makan sambil balik aja) dan berhubung aku cuma nebeng (ga bawa motor),
rombongan enggak makan, aku ikut enggak makan. Dan itu sebenarnya fatality
banget kalo agan adalah type orang nggak tahan dingin.
.
Saat tes ketiga dimulai, tubuhku berada dalam kondisi
memprihatinkan. AC yang berhembus hanya dari sebelah kanan tubuhku mulai
mendinginkan bagian sana. Walhasil, wajah bagian kananku sama sekali nggak enak
banget. Perut mulai lapar, dan efek begadang semalem bener2 membuatku ngantuk.
Hal itu diperparah dengan soal SOSHUM yang type soalnya bukan buat dianalisa,
tapi hafalan. Sebenarnya waktu berapa ya, 90 menit mungkin, buat ngerjain soal
SOSHUM sebanyak 45 soal itu bukan perkara susah bagi orang yang piawai dalam
mengarang jawaban dan nggak belajar. Jadi 80% waktu yang tersisa buat nutupin
mulut yang berkali2 mangap sama ucek2 mata biar tetesannya enggak mengenai LJK.
Mau ngegeletakin kepala di meja gengsi donk? Aku kan orang yang bener2 niat
ujian SBMPTN, bukan orang yang ngebayar 100rbu cuma buat tidur diatas meja ber
AC 4 dijogjakarta selama 72 menit! (Hint : Jangan tinggalkan makan siang, kalo
perlu bawa bekel! Roti kek ato minuman yang nunda lapar. Serius!)
.
Susah payah nunggu waktu, akhirnya kelar juga tesnya. Sok
jaim aku keluar ruangan dengan tenang. Amat sangat tenang, padahal badanku
rasanya pengen banget diplintir plintir. Nah, karena aku ada agenda tes praktek
di hari besok, maka aku ngundang (tepatnya sedikit maksa sih
) sama sohibku
Yasin, buat nemenin aku di pondok. Cuma Yasin dan dia sebenarnya bukan bagian
dari rombongan. Setelah ditunggu sama rombongan, sampe juga Yasin di UIN.
Soalnya dia tes SBMPTN di UGM karena dia ambil SAINTEK bukan IPC kayak aku.
Rombonganpun pulang, dan aku, bang Amin, sama Yasin, puter balik ke pondok.
.
Break :
.
Amat sangat ngantuk sampe di pondok. Akhirnya tidur sekejap
sampe jam 5 sore. Skip sampe jam 8 malem aja deh. Karena di dalam jadwal tes
prakteknya hari Selasa dan/atau hari Rabu, (saat itu hari Senin) dan belum ada
informasi dari pihak UNY mengenai daftar peserta yang kebagian hari Selasa atau
Rabu, atau malah prakteknya dua hari itu, maka aku sama Yasin (kita) putuskan
buat jalan aja ke UNY. Yasin juga ada kepentingan registrasi yang membutuhkan
warnet. Jalan kita dari pondok menuju ke jalan gede buat cari warnet. Ketemu
warnetnya, tapi penuh. Akhirnya setelah tanya sama operator warnet tentang
lokasi warnet lain, akhirnya setuju juga kita puter balik buat registrasi di
warnet Game Online.
.
Gilaaaa. Wah beneran begitu sampe warnet. Ini bener2 real
warnet buat para online gamer. Pemilik warnetnya kayaknya bangga, soalnya
nempaten achievement para pemain langganannya berupa sertifikat menang lomba
game online di kaca semacam mading. Ada lomba Counter Strike online, ada Pont
Blank, ada juga Cross Fire. Wuuuh keren gilaaaa *_*. Sambil nunggu Yasin
registrasi, aku ngegeletakin di meja. Efek begadangnya belum usai nih. Nguantuk
luar biasa. Mata pedes.
.
Setelah urusan registrasi selesai. Lanjut deh ke UNY FBS
(Fakultas Bahasa dan Seni, tempat diadakannya tes praktek). Ada sekitar 4 km
jalan kaki sampai ke fakultasnya. Sampe di sana aku nanya bapak2 yang
kelihatannya dosen (kalo ga salah). Dia bilang kalo informasi pembagian peserta
itu besok pagi dan dimulai pukul 7. Udah gitu aja. Kita jalan 8 km pulang pergi
cuma buat dapetin jawaban gitu aja. S.A.K.I.T. Tapi mau gimana lagi. Nggak ada
pengumuman di website UNY sendiri yang memaksaku untuk seperti ini (atau
mungkin ada yg mikir, “segitunyaaaaa”).
.
Pulang dari UNY, sempet mampir Indom*rt Point buat beli
minuman elektrolit. Sampai dipondokan jam 11 malemmm, wah, gimana yah, ga bisa
dijelasin pake kata, gimana rasa capeknya. Langsung tidur gitu aja (ada dikit sebenarnya.
Ngobrol bentaran sama mas ketua pondok, trus ngcopy film Avengernya bang Amin
meskipun pixelannya jelek, trus sholat Isya). Ga peduli sama gangguan kanan
kiri. Langsung ane jadi PELOR.
.
Pagi2nya, niat kita (ato mungkin cuma aku) jalan kaki lagi
8km pp cuma buat liat daftar ato kalo nggak hoki praktek hari itu juga, bakalan
capek gegara manggul gitar seharian kesana kemari. Untungnya bang Amin nawarin
kunci motor. Meski Yasin udah punya SIM, dia nggak mau di depan. Takut katanya.
Lah daripada jalan kaki, walau aku ga punya SIM, dan pertama kali naik motor
orang, mau nggak mau, daripada ambil resiko nenteng gitar seharian trus ga
hoki, aku nekad aja bawa motor.
.
Sampai di UNY, aku jadi manusia ke 5 yang sampe di sana
paling awal. Jam setengah 7 kalo ga salah. Kali ini aku nggak kaya orang ga
punya dosa lagi. Ada Yasin buat di ajak cas cis cus. Hahaha… Sambil ngomentarin
kanan kiri yang asik main instrumennya, kita berusaha ngebunuh waktu. Soalnya
ga tau juga sih, mau sampai kapan masuknya, toh ga ada bel. O ya, lupa deh kalo
aku sebenarnya bawa gitar. Tapi percuma juga dimainin. Paling juga teng tong
teng teng tong teng teng teng dentingan Romance De Amour doank yang dimainin.
:’v ga ada yang lain. Karena memang aku belum bisa yang lain :’v.
.
.
Sampe ada brother dari Pacitan, Ryan (Hai Ryan
). Selain SBMPTN musik, dia juga mendaftar di ISI, trus mau ngambil major
Bass katanya. Hebat, dia udah pernah menang kejuaraan band! (Aku mah apah,
atuh.. :’v ) Trus ada Eko Suhadinata dari Sumatraaaa… Waw, jauh banget yah?
Dari salah satu tempat wisata paling menakjubkan yang belum bisa aku kunjungi,
Pagar Alam (Anak DDDS pasti tau yang ‘nama’nya Pagar Alam). Widiih, semangat
juang yang tinggi yah, untuk mendapatkan sekolah. Di bela-belain lho. Akhirnya
setelah ngobrol sana sini, yang sempet dikirain kalo Yasin juga ikut tes, akhirnya
ada juga panitia yang bawa kertas
pembagian jatah siswanya. Daaaaaan, aku jatah di hari Rabu. Sama Eko
juga. Entah kalo Ryan. Lagi-lagi, kita datang ke UNY lagi cuma buat
mendapatkan informasi ini
.
.
Sampai di pondok, masih juga belum hilang rasa kantuknya,
it’s time to sleep tight. Hari itu, aku isi dengan berlatih lagu buat besok dan
iseng2 nyocokin jawaban SAINTEK dan TPA. Sambil ngedebat sama Yasin juga
tentang soal Fisika. Malemnya, diajakin bang Amin maen ke rumah kakak kelas.
Mayan lah, daripada bengong di pondokan. Ke tempat kosnya bang Naufan. Sampe di
sana, kita di ajak maen PES. Aduh, ngga suka maen game bola, deh. Tapi buat
seru2an aja, gapapa lah. Akhirnya, aku kalah telak di menit 30 dengan bang
Naufan yang masih dalam mode tiduran maennya dengan skor 3 – 0. Aku serahin
sama Yasin yang udah memiliki jam terbang tinggi di sisa waktunya. Hasilnya,
setelah waktu usai, dia juga kalah 7 – 0. Wkwkwk masih pintaran aku berarti
. Karena dianggap terlalu mudah untuk dilawan, bang Naufan ngantuk dan nyuruh
kita aja yang main
. Liat aja, 15 menit kita main, eh, udah tidur
dia. Kita main 3 round. Masih labil banget ane milih tim yang enak. Sampailah
aku ke club Manchester City. Wih, enak bener buat tackle.nya. Tinggal tabrakin
aja ke pemain lawan yang pegang bola, langsung deh kerebut. Hasilnya? Aku
menang 3-2 dengan Yasin! Padahal sempet pemainku di kartu merah gegara terlalu
mudah tackle trus gampang pelanggaran (itu round ke 2). Abis itu coba main sama
club lain, enggak enak. Tackle.nya jelek. Gampang kerebut dan susah ngerebut.
Ane kalah 2 – 0 gegara nggak pake Manchester City, trus minta ganti club (ga
ane anggep round itu). Nah, round terakhir kita seri. Setelah puas maen PES dan
ngerasa ga enak karena di tiggal tidur sama si owner, kita pamit. Sementara
bang Amin ke kosannya bang Ivan yang masih satu rumah dengan bang Naufan. Trus
ada bang Okta juga. Mereka lagi main poker. Langsung aja kita gabung maen.
Ngakak segala macem sampe jam 12 dan kita kudu pulang buat persiapin tes besok.
.
Tes Praktek SBMPTN :
.
Karena bang Ami nada urusan dengan tugas perkuliahannya,
hari itu aku nggak pake motornya bang Amin ke UNYnya. Tapi bang Amin mau
nganterin ke UNY cenglu (mbonceng telu alias motoran bertiga) lewat jalan
tikus. Wih, jalan ini ngirit jarak 2 km daripada pas lewat jalan formal. Karena
kita bertiga satu motor, ketika sampai di lampu merah depan rektorat UNY, kita
turun. Mulai dari situ ke FBS jalan kaki.
Apa yang mau dikatakan saat itu ialah deg degan
bangeeeeettttt. Banyak peserta juga yang puter halauan ke FBS. Seriously, itu
bikin nervous. Sampailah di belakang gedung baru. Udah ada Eko duduk di sana. Dia
kelihatannya tenang banget. Di sampingnya temen barunya dan dia kelihatan asyik
ngobrol. Aku datang dan salaman sama dia. Karena saat itu aku belum liat
ruangan buat tesnya, aku bilang sama Yasin buat check tempat dulu. Di ruang C
berapa ya, lupa, itulah ruanganku. Sayup2 terdengar suara lagunya Mozart yang
di pakai Oscar – Asian’s Got Talent waktu perform dengan harmonikanya,
dimainkan dengan piano. Siapa yang memainkannya? Dentingannya, indahhh… :’)
.
Ada 2 tes praktik yang dilaksanakan pada saat itu. Pertama,
yaitu tes keterampilan dan wawancara, kedua, tes solvegio (adalah tes yang menitikberatkan pada kemampuan peserta dalam menirukan ritmis ; ketukan). Agak deg degan juga
sih, karena mas Pras bilang adanya tes interval (hubungan tiap 2 nada berbeda yang dibunyikan bersama, seperti interval perfect 5 jika nada Do dan La dibunyikan bersama, atau interval perfect jika Do dan Fa dibunyikan bersama. Apa yang membuatku kesulitan adalah ketika Do dan La adalah perfect 5, tapi La dan Do adalah perfect 4, tergantung penempatan not mana yang lebih rendah dan tinggi. Dan dibayanganku, kita menebak nama interval 'hanya' dengan mendengar kedua bunyi tersebut. Kebayang kan? Do Re Mi Fa Sol La Si Do.nya aja belum hafal, trus dua not dibunyikan bersama, dan di suruh nebak itu interval apa.). Ada panitia di depan ruangan,
dan aku bertanya, tentang ruangan yang mau dipakai untuk tes praktik. Dan
beliau menjawab ‘ya’. Beliau menawarkan supaya aku menjadi peserta pertama.
Karena berpikir semakin cepat praktik berarti semakin cepat pulang, aku setuju.
Aku menjadi orang pertama yang menjajal keganasan, well, salah satu neraka
dunia. Kutulis namaku di selembar kertas dan kutulis pula instrument musik yang
harus kumainkan. Oh, holyleaf, kenapa hanya satu instrument saja yang harus
dimainkan? Aku mempersiapkan 2 bro. Karena aku sudah kepalang basah kemana mana
nenteng gitar, dan belum pernah nyentuh piano, kuputuskan untuk praktik gitar
(masa iya nentengin gitar kesana kemari cuma mau praktik vocal?). Sambil
menunggu giliranku (atau sebenarnya, menunggu namaku dipanggil), aku berkenalan
dengan Billy dari SMK 2 Kasihan Bantul yang bawa biola (Hai mas bro?) Oh, kawan, ente
kudu tau perasaanku saat melihat biola. Tubuh antiknya, kilau sombongnya, luwes
senarnya, tegas gesekannya… Aku belum bisa mengendalikan ini.
Ada
juga peserta bersuara bass dan membawa cello buat perform. Bersuara bass dan
cello? Pasangan yang serasi bukan? (Hai mas bro!)
.
Saat lagi enak2 ngobrol, namaku terpanggil. Terdengar jelas,
keras, mengintimidasi, bersiap mempermalukan dan aku nggak suka panggilan itu
ditujukan padaku. Tersenyum pahit, aku pamit sama temen2 buat masuk. Di dalem,
ada dosen wanita dengan rambut sebahu berkacamata (dia yang bermain Mozart tadi).
Dengan ramah beliau mempersilahkan masuk. Jurus2 wawancara seketika itu
langsung aku praktikan, seperti, memberikan salam, tersenyum, dan jangan duduk
ketika dosen belum mempersilahkan duduk. Aku pikir hal itu bekerja. Beliau
mempersilahkan penampilanku. Terdengar konyol, aku menyampaikan kalau penampilan
guitarku yang memainkan Romance De Amour hanya bisa di bagian minor. Dan
untungnya, beliau tidak keberatan. Saat bermain, teramat nervous sehingga ada
satu petik note lagu yang nggak berbunyi dan ada pula bagian yang kelebihan
bhirama, yang dengan polos aku pura-pura menghayati permainanku. Dilanjutkan
dengan bermain lagu bebas yang ada iringannya. Aku main lagunya Jamrud –
Pelangi di Matamu. Ini lagu mellow kesukaanku J.
Setelah selesai perform, aku dikomentari bahwa sebenarnya, aku lebih cocok di
bagian vocal daripada guitar
. Kemudian, untuk memastikan
penampilanku, beliau memintaku menampilkan lagu nasional dan lagu daerah, dan
inilah kenapa tadi aku menyebutnya salah satu neraka dunia. Aku belum latihan
untuk itu, maksudku, aku belum belajar chordnyaaa. Walhasil, aku bilang sama
dosennya, dan dosennya, ya mau gimana lagi, masa iya suruh belajar dulu,
mengizinkan aku bernyanyi tanpa iringan guitar. Lagu yang aku mainkan saat itu,
Halo – halo Bandung, karena lagu itu pula yang aku buat untuk seleksi SNMPTN
(Hai seseorang yang ada di Bandung!
) dan untuk lagu daerahnya, aku ga ada
waktu buat mikir, nyeplos aja lagu Sue Ora Jamu (oh aku ngerasa jadi shit-man saat
itu. Itu lagu anak TK, bukan lagu yang pantas buat seleksi masuk perguruan
tinggi
)
.
Mungkin karena dosennya nyerah dengan kurang-persiapanku,
aku dipersilahkan keluar setelah beliau orat oret sesuatu di kertas kecilnya.
Keluar dari ruangan, mau di tanya apa lagi? Senyum juga buat apa, seneng juga
buat apa orang di dalem tadi ancur gitu
. Kemudian Eko dipanggil.
Sambil nunggu Eko dan juga menyimak kemampuan Eko, kita tanya2 sama Ryan
yang dari SMK 2 Kasihan, Bantul (Sekolah Menengah Musik). Ternyata, peserta dari sekolah musik memiliki tingkat
kesulitan tes lebih susah daripada peserta dari SMA. Terbukti ketika dia
menceritakan pengalaman di dalem, saat dosen bertanya tentang bagian-bagian
lagu (what?), dia kelihatan frustasi menjawabnya. Tenaaaaaaang… Ada teman juga
aku
. Kita denger juga suara Eko saat bernyanyi. Wow, dia bermain di zona tak
aman. Dia menyanyi dengan nada tone tinggi yang riskan pitch dan pecah. Dia
bernyanyi cukup bagus, aku berpikir. Keluar, dia tersenyum saja menanggapi apa
yang terjadi di dalem. Aura dia benar2 menyilaukan
.
.
Kita menuju tes kedua, yaitu tes solvegio. Di sana banyak
juga yang mengantri. Maka, sambil menunggu antrian, kita ngobrol sama Eko
tentang perform tadi. Kembali namaku disebutkan. Berdebar-debar aku masuk ke
dalam. Dugaan adanya tes Interval bener2 membuatku down. Sama seperti yang
kulakukan sebelumnya, aku mempraktikan jurus untuk menghadapi hal semacam ini.
Ada dua dosen di ruangan itu, semuanya dosen pria. Dan tatapannya mengartikan
bahwa dia amat sangat serius dan bertanggung jawab atas tugas yang diembannya
(agan bisa tau air muka mereka kan?) Tes di mulai. 5 soal pertama adalah tes
ritmis, dimana aku harus menirukan ritme bunyi yang dibuat oleh penguji dengan
cara bertepuk tangan. Dosen memberikan bunyi melalui computer yang dihubungkan
dengan speaker. 2 soal pertama adalah ketukan drum 1 bhirama (mungkin) dan aku
melewatinya dengan mudah. 3 soal terakhir adalah bunyi nada 2 bhirama. Dengan
gabungan nada ¼ ketuk ½ ketuk dan beberapa nada yang susah untuk di teorikan
ketukannya (
), susah pula ngejiplak ritmisnya dengan tepuk tangan. Frustasi, di
bagian akhir bhirama, aku tepuk tangan kek nabok nyamuk
. 5 soal kedua
adalah tes duplikasi nada, yang juga 2 bhirama. Itu juga susah sekali. Saat soal
ke 3, saking frustasinya, aku negoisasi sama dosen, “Pak, maaf, bisa di ulang
nggak ya?” | “Maaf, cuma diperdengarkan sekali saja.” Oh, tidak. Maka sama
seperti 3 soal terakhir, aku menduplikasi nada persis kayak anak TK belajar
nyanyi bintang kecil “laa.. la.. la.. la-laaa…. LALALALAAAAAAAA”. Nadanya ga
karuan kacaunya. Nadanya kemana, suaranya kemana
. Akhirnya, mungkin
dosen tau permasalahanku (atau mungkin itu prosedur tes berikutnya), 5 soal
terakhir cuma menduplikasi 2 note 1 ketuk. Itu mudah, dan itu keahlianku :’).
Setelah 5 soal terakhir, dosen mempersilahkanku keluar ruangan. Lagi2 aku
tersenyum kecut keluar ruangan. Sambil nunggu giliran Eko, kita bercanda, dan
aku masih saja frustasi
.
.
Setelah Eko praktik dan kelihatannya juga tidak ada masalah
(dia senyum terus, aku suka pikiran positifnya), kita pamit pulang dengan dia
ke pondok. Karena kita nggak mau ngerepotin bang Amin buat ngejemput, kita
inisiatif pulang jalan kaki. Lagian sambil ngeluapin emosi-emosinya di
perjalanan. Ya, tes solvegio dengan ketukan ¼ dan ½ tak mungkin bisa dilakukan
tanpa latihan serius, itu persis saat aku menyuruhmu mengulang kata ini dan
harus hapal tanpa pengulangan : “Prabu Handoko Noto Boto Limo Tibo Sedoyo, Wong
Gagah Prakoso sak Jagat Ndonya, Mangku Wanito Limo Tanpo Busono Sedoyo.”
(Terinspirasi dari film Preman is Love dengan beberapa perubahan
) Dengan
menggabungkan aksen jawa ditambah dengan akhir vocal kalimat “O”, tentu ada
kesulitan tersendiri bagi yang belum terbiasa dengan itu untuk menirukan
kalimat itu hanya dengan satu kali dengar. (Abaikan, aku mencoba beranalogi)
.
The Result :
.
Berdebar-debar juga menunggu hasil SBMPTN, soalnya aku tak
sabar menerima berita tentang diterimanya aku di IPB. Setelah kesulitan
memasukkan PIN dan banyaknya traffic website yang membuat beberapa website
pengumuman down, akhirnya bisa lihat juga hasil dari SBMPTN. Tapi ternyata gagal
juga. Begitupun dengan prodi musiknya. Gagal pula. S.A.K.I.T.
.
Epilog :
.
Di sela-sela menunggu waktu pengumuman SBMPTN, SM Prestasi
UNY di buka. Dan aku tiada kapoknya mendaftar lagi di UNY jurusan Pendidikan
Seni Musik. Menggunakan video yang sama seperti SNMPTN (karena tidak ada waktu
untuk membuat, kau tahu, aku tidak punya gitar, aku tidak punya keyboard, aku
tidak punya kamera, dan satu satunya tempat yang enak untuk rekaman adalah di
ruangan ekstrakurikuler di sekolah) dan beberapa video tambahan, yang saat itu
aku membuat video keyboard yang pada sebenarnya aku persiapan untuk seleksi
SBMPTN, yaitu Yiruma - Kiss the Rain. Pengumuman SM Prestasi UNY lebih cepat
daripada SBMPTN, dan Alhamdulillah, aku diterima di jalur ini. Yey… 
.
Thanks to :
Yasin, yang udah nemenin kegiatan SBMPTN, luv yu lah
pokokmen (don’t throw me a brick)
.
Ridwan, yang juga ikut meramaikan suasana saat kita sama2 jadi pasukan Red Army (warna merah rapor, karena nggak diterima SNMPTN)
Eko, dan brothers yang sempet kenalan di sana, kalian sungguh baik
.
Ridwan, yang juga ikut meramaikan suasana saat kita sama2 jadi pasukan Red Army (warna merah rapor, karena nggak diterima SNMPTN)
Eko, dan brothers yang sempet kenalan di sana, kalian sungguh baik
bang Amin, yang udah ngekondisiin tempat dan mempercayakan motornya buat kami
udel2
.
bang Naufan, bang Ivan, bang Oktan, kalian juga kakak yang baik
.
mas Pras, yang udah sabar ngelatih aku Kiss The Rain.nya
.
Rombongan konvoy, yang ngebolehin aku buat nebeng
.
Adib, yang udah genjreng2in supaya teriakan kita tetep di track.nyah
.
Pak Nur juga, yang udah buat aku jatuh cinta sama musik
.
bang Naufan, bang Ivan, bang Oktan, kalian juga kakak yang baik
mas Pras, yang udah sabar ngelatih aku Kiss The Rain.nya
Rombongan konvoy, yang ngebolehin aku buat nebeng
Adib, yang udah genjreng2in supaya teriakan kita tetep di track.nyah
Pak Nur juga, yang udah buat aku jatuh cinta sama musik
.
Aku nggak akan berjalan sejauh ini tanpa kalian :’) . Semoga
kalian menikmati ceritanya. Sampai ketemu di tulisan berikutnya! 
Oh ya, bagi yang mau kenalan sama jurusan seni musik, bisa Click Me!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar